Pages

Monday, 4 March 2013

Logika dan Perasaan harus seimbang

oke girls kali ini ilenna bakal ngebahas tentang cara berfikir logika en berfikir dengan perasaan,, khusus nya buat cewek ne yang kebanyakan bahkan hampir semua cewek berfikir pake perasaan.
sekarang ne udah ga jaman na cewek tu berfikir pake parasaan mulu, yang adda di manfaatin oleh para lelaki..
oke girls ini dia.... "
” Kita harus memandang sesuatu secara objektif, Objektif itu melihat keadaan dengan menggunakan akal dan hati kita, menggunakan keduanya dengan pemikiran terbuka. Akal menentukan sesuatu tersebut masuk dalam logika kita, sedangkan hati yang menetapkan dan memantapkan sehingga kita merasa nyaman dengan hal itu”
KECANTIKAN
Oke singkirkan sejenak tentang ”sesuatu secara objektif ” karena yang akan kita bahas dulu kali ini mengenai Akal dan Hati atau bahasa yang yang lebih sering kita gunakan yaitu Logika dan Perasaan.
Pengertian secara singkat menurut Wikipedia :
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
sedangkan Perasaan, dalam psikologi kata ini sering diartikan untuk pengalaman subjektif sadar mengenai emosi.
Ketika kita memandang sesuatu hanya menggunakan Logika atau akal, tentu yang lebih berperan adalah otak kita. Secara tidak langsung hal-hal yang kita anggap ”tidak masuk akal” berarti nonsense atau tidak ada. Sebaliknya jika memandang sesuatu hanya menggunakan perasaan, emosilah akan berperan, tentu akan sangat merepotkan bila kita melihat sesuatu secara ‘emosional’nya saja..
Sebagai contoh, misalnya dalam kasus pembunuhan.
Secara logika saja, istilah hutang dibayar hutang dan nyawa dibayar nyawa adalah hal yang wajar. Orang yang telah membunuh sangat pantas dibunuh karna itu sesuai dengan ganjaran yang telah dilakukan.
Namun ketika kasus yang terjadi dilapangan berbeda, misalnya orang tersebut membunuh karna tidak sengaja atau karna sedang membela diri harus kah tetap dibunuh juga ?? Adilkah??
Sedangkan menurut perasaan, dilihat dari segimanapun membunuh adalah hal yang salah, rasa kasian dan manusiawi dari dalam diri kita tentu sangat menentang tindakan membunuh ini.
Namun ketika terjadi kasus yang berbeda juga, seperti misalnya ada kasus dimana seorang psikopat yang telah melakukan pmbunuhan berantai terhadap beberapa orng dengan cara memutilasi. Masih bisakah kita bilang ”Ih kasian jangn dibunuh penjahatnya, menghilangkan nyawa manusia kan melanggar hak asasi manusia, dikurung beberapa tahun aja”. Bagaimana dengan perasaan keluarga korban yang nyawanya hilang dengan cara tidak manusiawi?? Adil kah??
Inilah makna dari kata-kata menilai sesuatu secara objektif dengan menggunakan Logika dan Perasaan kita. Jangan terlalu menggunakan logika atau perasaan saja karena hal yang tersampaikan akan bersifat subjektif.
Well, bagian yang menarik adalah sifat dari manusia itu sendiri,
Pria cenderung menggunakan akal dalam tindakannya, sedangkan wanita cenderung menggunakan perasaan. Kadang dari sifat ini sering menimbulkan perbedaan pendapat, tapi sungguh ini merupakan salah suatu kuasa Tuhan yang telah menciptakan sesuatu secara berpasang-pasangan. Bayangkan ketika manusia hanya berfikir secara logika saja atau hanya melalui perasaan saja. Ketika salah satu dikuasai oleh logika dan salah satunya oleh perasaan saat bersama tentu akan menimbulkan keseimbangan dalam kehidupan ini.